PT AirAsia Indonesia Tbk Pertahankan Load Factor 82% dan Tingkatkan RASK 25,5% di Tengah Tekanan Biaya Industri
Permintaan Pasar Tetap Solid: Indonesia AirAsia melayani 3,92 juta penumpang dalam 26.455 penerbangan, serta mempertahankan tingkat keterisian penumpang (load factor) yang tinggi di angka 82%, mencerminkan ketahanan permintaan pasar di tengah penyesuaian kapasitas.
Pendapatan Usaha Relatif Stabil: Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 5,78 triliun, turun tipis 4,1% YoY, di tengah penyesuaian kapasitas Available Seat Kilometers (ASK) sebesar 23,6%, yang menunjukkan peningkatan produktivitas pendapatan dari kapasitas yang tersedia.
Produktivitas Pendapatan Lebih Tinggi: Kenaikan harga tiket rata-rata sebesar 11,5% menjadi Rp 1,23 juta serta optimalisasi jaringan rute berhasil mendorong peningkatan Revenue per Available Seat Kilometer (RASK) sebesar 25,5% menjadi Rp 930, menegaskan kemampuan Perseroan dalam memaksimalkan pendapatan unit di tengah tekanan biaya.
Kontribusi Pendapatan Layanan Tambahan Terjaga: Pendapatan layanan tambahan (ancillary revenue) mencapai Rp 822,53 miliar, ditopang oleh layanan bagasi, makanan dalam pesawat (inflight meals), penerbangan sewa (charter), dan kargo udara, yang kian memperkuat diversifikasi arus pendapatan Perseroan.
Kinerja Keuangan Terdampak Tekanan Eksternal: Perseroan mencatat rugi sebelum pajak sebesar Rp 1,74 triliun, dipengaruhi oleh lonjakan harga avtur dunia sebesar 50,5% serta peningkatan rugi selisih kurs sebesar 103,2% YoY. Tanpa memperhitungkan rugi selisih kurs, rugi sebelum pajak tercatat sebesar Rp 913,29 miliar.
Disiplin Biaya Perkuat Ketahanan Bisnis: Langkah-langkah efisiensi biaya pada perawatan pesawat, operasional penerbangan, dan pemasaran berhasil menahan pertumbuhan total beban usaha di angka 1,7% YoY di luar dampak selisih kurs.
JAKARTA, 28 Oktober 2026 – PT AirAsia Indonesia Tbk (“AAID/CMPP” atau “Perseroan”) merilis laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2026 dan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026. Beroperasi melalui anak perusahaannya, PT Indonesia AirAsia (“Indonesia AirAsia”), Perseroan berhasil mempertahankan tingkat keterisian penumpang (load factor) sebesar 82% dan meningkatkan Revenue per Available Seat Kilometer (RASK) sebesar 25,5% secara tahunan (Year-on-Year/YoY) sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026, menegaskan kuatnya permintaan pasar di tengah penyesuaian kapasitas dan tarif.
Hingga September 2026, Perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 5,78 triliun, atau turun tipis 4,1% YoY di tengah pengurangan kapasitas Available Seat Kilometer (ASK) sebesar 23,6%. Indonesia AirAsia menerbangkan 3,92 juta penumpang dalam 26.455 penerbangan, dengan harga tiket rata-rata naik 11,5% menjadi Rp 1,23 juta dan RASK mencapai Rp 930. Kinerja ini menunjukkan bahwa strategi optimalisasi jaringan berhasil mendorong produktivitas pendapatan unit sekaligus mempertahankan tingkat keterisian kursi yang tinggi.
“Tantangan terbesar yang dihadapi industri penerbangan saat ini bukanlah permintaan penumpang, melainkan kenaikan biaya untuk melayani permintaan tersebut. Kinerja kami membuktikan bahwa ketahanan pasar Indonesia AirAsia tetap solid. Meskipun terdapat penyesuaian kapasitas dan tarif, tingkat keterisian penumpang kami tetap stabil. Hal ini memberi kami keyakinan kuat bahwa fondasi pasar kami tetap kokoh,” ujar Direktur Utama PT AirAsia Indonesia Tbk (AAID/CMPP), Captain Achmad Sadikin Abdurachman.
Di sisi lain, tekanan biaya eksternal terus membebani kinerja keuangan secara keseluruhan. Beban bahan bakar mencapai Rp 2,83 triliun, naik 19,1% YoY, dipicu oleh lonjakan harga avtur dunia sebesar 50,5% serta pelemahan nilai tukar Rupiah sebesar 6,3% terhadap Dolar AS. Peningkatan rugi selisih kurs sebesar 103,2% turut mempengaruhi hasil konsolidasian, sehingga membukukan rugi sebelum pajak sebesar Rp 1,74 triliun. Tanpa memperhitungkan kerugian selisih kurs, rugi sebelum pajak berada di angka Rp 913,29 miliar.
Menanggapi tantangan tersebut, Perseroan terus menerapkan pengelolaan biaya yang ketat melalui optimalisasi operasional dan disiplin anggaran. Upaya ini berhasil menahan pertumbuhan total beban usaha di level 1,7% YoY, meskipun Cost per Available Seat Kilometer (CASK) naik 31,8% dan CASK di luar bahan bakar (CASK ex-fuel) meningkat 18,3%, yang sebagian besar dipicu oleh tekanan biaya eksternal dan pergeseran kapasitas.
“Kami mengelola situasi saat ini secara proaktif dan terukur. Kami memaksimalkan setiap instrumen yang berada dalam kendali kami—mulai dari pengelolaan kapasitas dan produktivitas armada, hingga optimalisasi pendapatan per penerbangan serta pengendalian biaya. Prioritas kami bukan sekadar menambah frekuensi penerbangan, melainkan memastikan setiap penerbangan menghasilkan imbal hasil ekonomi yang lebih kuat,” jelas Captain Sadikin.
Dari total pendapatan, penjualan tiket penumpang berkontribusi sebesar Rp 4,96 triliun, sementara pendapatan layanan tambahan (ancillary revenue) mencapai Rp 822,53 miliar—yang diperoleh dari layanan bagasi, hidangan dalam pesawat, penerbangan charter, dan kargo udara. Memaksimalkan ragam sumber pendapatan ini menjadi bagian inti dari strategi untuk meningkatkan nilai ekonomi per penerbangan sekaligus memperkuat ketahanan model bisnis Indonesia AirAsia.
Memasuki sisa tahun 2026, Perseroan akan terus memprioritaskan jaringan rute dengan permintaan yang berkelanjutan, meningkatkan utilisasi armada secara selektif, serta menangkap lonjakan permintaan perjalanan pada periode libur akhir tahun (peak season). Strategi ini diperkuat oleh integrasi ekosistem AirAsia Group yang lebih luas—termasuk layanan penerbangan lanjutan (Fly-Thru) yang menjangkau lebih dari 130 destinasi—membuka peluang ekspansi pasar serta mendorong trafik penumpang di seluruh jaringan Indonesia AirAsia.
“Kami melihat potensi pertumbuhan tetap terbuka karena permintaan pasar yang mendasarinya masih terjaga. Melalui strategi rute yang lebih terarah, peningkatan produktivitas, serta dukungan ekosistem AirAsia Group, kami memiliki fondasi yang jelas untuk pemulihan kinerja secara bertahap. Kami akan terus menjaga fleksibilitas operasional agar dapat beradaptasi secara cepat terhadap pergerakan harga bahan bakar, nilai tukar mata uang, maupun kebutuhan pasar,” tambah Captain Sadikin.
Kepercayaan pelanggan juga kian memperkuat posisi Indonesia AirAsia di pasar. Pada tahun 2026, Indonesia AirAsia dinobatkan sebagai “Best Low-Cost Airline in Indonesia” untuk pertama kalinya dalam ajang Skytrax World Airline Awards. Pengakuan internasional ini menjadi pencapaian penting bagi seluruh Allstars Indonesia AirAsia dan menegaskan apresiasi pelanggan yang tinggi terhadap kualitas layanan yang konsisten terjaga di tengah dinamika industri.
“Penghargaan Skytrax ini menjadi motivasi luar biasa bagi seluruh Allstars kami. Meski terdapat banyak faktor eksternal di luar kendali kami, prioritas utama kami adalah menjalankan bisnis secara efektif. Didukung oleh pasar yang tangguh, kekuatan jaringan rute AirAsia Group, serta dedikasi seluruh tim, kami optimis dapat melewati tantangan saat ini dan membangun kinerja yang lebih sehat serta berkelanjutan dalam jangka panjang,” tutup Captain Sadikin.