Jaga Ketahanan Bisnis di Tengah Lonjakan Harga Avtur, PT AirAsia Indonesia Tbk Pangkas Kerugian Operasional Utama 6,9% pada Semester I 2026

  • Pendapatan Tetap Solid: Mencatatkan total pendapatan Rp 3,91 triliun (turun tipis secara tahunan 1,8% YoY) seiring langkah rasionalisasi kapasitas rute.

  • Penataan Tarif yang Disiplin: Naikkan tarif rata-rata sebesar 4,9% untuk menekan beban biaya avtur, sehingga Revenue per Available Seat Kilometer (RASK) melonjak 17,4%.

  • Efisiensi Biaya Operasional: Biaya operasional berhasil ditekan 2,2% (di luar selisih kurs), didorong efisiensi signifikan pada biaya perawatan (-29%) dan pemasaran (-29%). Cost per Available Seat Kilometer (CASK ex-fuel) membaik 1,2%, mencerminkan efisiensi internal dan disiplin anggaran yang ketat. 

  • Kinerja Operasional Utama Meningkat: Di luar faktor selisih kurs (forex), kerugian Perseroan berkurang 6,9% menjadi Rp 678,4 miliar.

  • Tingkat Isian Penumpang Terjaga: Mengangkut 2,83 juta penumpang dengan tingkat keterisian (Load Factor) mencapai 82% dari total 19.125 penerbangan. 

JAKARTA, 28 Juli 2026PT AirAsia Indonesia Tbk (“AAID/CMPP” atau “Perseroan”) menerbitkan laporan keuangan konsolidasian Semester I 2026 (1H26), membuktikan ketangguhan bisnis serta efisiensi operasional di tengah dinamika ekonomi global melalui anak perusahaannya, PT Indonesia AirAsia (“Indonesia AirAsia”).

Selama semester pertama 2026, lonjakan harga avtur dunia sebesar 46,7% YoY memicu pembengkakan biaya bahan bakar maskapai hingga 26,1%, menjadi Rp 1,99 triliun. Kondisi ini makin menantang akibat Rupiah yang melemah 5,0% terhadap Dolar AS. Namun, lewat penataan rute penerbangan dan efisiensi biaya yang ketat, Indonesia AirAsia berhasil meredam dampak tersebut. Hasilnya, kerugian operasional Perseroan (di luar pengaruh selisih kurs) berhasil dipangkas 6,9% menjadi Rp 678,4 miliar.

Total pendapatan Perseroan tercatat sebesar Rp 3,91 triliun, turun tipis 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,98 triliun. Penyesuaian ini merupakan hasil dari langkah terukur Indonesia AirAsia dalam mengelola kapasitas, di mana perusahaan memprioritaskan rute-rute yang menguntungkan dibanding sekadar mengejar volume penumpang.

Penjualan tiket penerbangan Indonesia AirAsia berkontribusi sebesar Rp 3,31 triliun. Sementara itu, pendapatan dari layanan tambahan (ancillary revenue) menyumbang Rp 595 miliar, didorong oleh layanan bagasi, makanan dalam pesawat (in-flight meals), penerbangan charter, serta kargo udara.

Indonesia AirAsia menyesuaikan total kapasitas penerbangan menjadi 3,44 juta kursi (turun 4,2%) dengan menata ulang rute dan alokasi pesawat. Untuk mengimbangi lonjakan harga avtur, harga tiket rata-rata dinaikkan 4,9% menjadi Rp 1,13 juta. Langkah ini berhasil menaikkan Revenue per Available Seat Kilometer (RASK) sebesar 17,4% menjadi Rp 854, yang menunjukkan kualitas pendapatan perusahaan makin membaik. Di sisi lain, minat terbang masyarakat tetap tinggi, terbukti dari 2,83 juta penumpang yang terangkut dalam 19.125 penerbangan, dengan tingkat keterisian pesawat (Load Factor) yang bertahan tinggi di angka 82%.

Dari sisi pengelolaan biaya, Perseroan terus menerapkan disiplin anggaran yang ketat. Hal ini terlihat dari Cost per Available Seat Kilometer (CASK ex-fuel) yang berhasil ditekan sebesar 1,2%. Efisiensi internal ini efektif meredam lonjakan beban operasional, sehingga Perseroan sukses memangkas kerugian (di luar pengaruh selisih kurs) sebesar 6,9%. 

“Semester pertama 2026 menjadi periode ujian bagi daya tahan industri penerbangan global dalam menghadapi lonjakan biaya operasional. Alih-alih mengejar volume penumpang yang tidak efisien, Indonesia AirAsia bergerak cepat menyesuaikan kapasitas, memangkas rute yang kurang potensial, dan menyesuaikan harga tiket dengan tetap mempertahankan load factor di angka 82%. Fokus kami pada efisiensi biaya internal, terutama pemangkasan anggaran pemasaran non-esensial dan penataan jadwal perawatan pesawat, berhasil menurunkan biaya operasional sebesar 2,2% sekaligus menekan kerugian operasional utama kami di 6,9%,” jelas Direktur Utama PT AirAsia Indonesia Tbk (AAID/CMPP), Captain Achmad Sadikin Abdurachman. 

Memasuki semester kedua 2026, Perseroan akan berfokus mempercepat pemulihan kinerja melalui optimalisasi rute-rute potensial, peningkatan utilisasi armada, serta efisiensi operasional secara menyeluruh. Langkah ini juga didukung oleh integrasi dengan ekosistem AirAsia Group, khususnya melalui layanan penerbangan lanjutan (Fly-Thru) yang menghubungkan penumpang Indonesia AirAsia ke lebih dari 150 destinasi di Asia-Pasifik. 

“Ke depan, kami akan terus mencermati perkembangan pasar dengan mengedepankan fleksibilitas operasional dan disiplin struktur biaya. Langkah terukur ini menjadi kunci utama untuk menjaga keberlanjutan bisnis Perseroan, sambil tetap menghadirkan layanan penerbangan yang berkualitas dan terjangkau bagi para penumpang,” tutup Captain Sadikin.